Sabtu, 08 Januari 2011
Senin, 07 Juni 2010
Wisata Makassar Monumen 40 ribu jiwa
Monumen 40.000 jiwa ini di buat untuk mengenang peristiwa tersebut, konon rakyat Sulawesi Selatan yang hanya mendengar kabar bahwa Negara Republik Indonesia telah merdeka, mendengar kabar itu Belanda mengumpulkan rakyat di tanah lapang, lalu di eksekusi ditembak habis-habisan oleh Belanda bejat dan kejinya lagi mayat-mayat rakyat tersebut di kubur di satu liang.
Korban-korban tersebut tidak hanya dari satu daerah melainkan menyebar di beberapa daerah seperti Sidrap, Pare-pare, Enrekang dan Barru.
Monumen tersebut terletak di wilayah yang jauh dari hituk pikuk kendaraan atau jalan raya, membuat tempat ini asri dan rapi, tapi kalau sepi sih kayaknya agak menyeramkan yach….., denganmonumen ini penderitaan mereka dapat juga kita rasakan melalui patung relief yang berdiri tegak di depan halaman patung ini menggambarkan sosok korban yang selamat dari pembantaian tersebut tetapi dengan kaki buntung sambil memegang penyangga di lengannya. Konon letak patung tersebut berdiri adalah lokasi korban di kuburkan dalam satu liang.
Untuk mengenang peristiwa sekaligus untuk memberi penghormatan dan doa setiap tanggal 11 Desember oleh Pemkot Makassar dan Pemprov Sulawesi Selatan dilaksanakan upacara sekaligus mengundang para keluarga korban, di beritakan bahwa kota Pare-Pare mendirikan monument yang sama.
Lokasi obyek Wisata di jalan korban 40.000 jiwa, dapat di capai dengan naik taxi, pete-pete (angkot), beca ataupun ojek.
Mari kawan-kawan pemerhati budaya kembangkan sayap-sayap Makassar, mari kita lanjutkan perjuangan yang telah di ukir para pejuang terdahulu, so sampai dimana aksi kita dalam melanjutkan ukiran-ukiran pahlawan kita, cara yang paling mudah adalah memajukan bangsa kita sendiri dengan menulis karya kita akan abadi dan ilmu yang kita bagi menjadikan kita sebagai Pahlawan
ucapan Makassar sehari-hari
apa antumae kabara’ : bagaimana kabarmu : how are you
allei erang mae : bawa ke mari : bring here
baji’-baji’ja’ : saya baik-baik saja : I’am fine
balla’ garring : rumah sakit : hospital
carita kuntu tojeng : kisah nyata : true story
cobe’-cobe’ : sambal : sharp-spice, sauce
dalle’-mandulu’ rejeki nomplok easy money
de’de’-kulantu’ : bual, dusta : untrue, untruth
ebara’ angkanaya : andai-kata, umpama : supposing that, excample
empoang-tallasa’ : jalan hidup : way of life
gassing-gassing mangka : sehat wal afiat healty, : healtness
galluru’ bombang : gemuruh ombak : storm of wave, hurricane
hallalla’ : halal : legally permitted, agreed
hukkungang mate : hukuman mati : death penalty, imprisonment to death
ikauji bawang : hanya kamu : only you
ilalang pa’maikku : dalam hatiku : in my heart
jappa-jappa : jalan-jalan, darmawisata : tour, picnic
jekkongi akkarena : curang bermain : unfair play
kamma olo’-olo’ : seperti binatang : as a beast, like an animal
kelong-kelong riolo : nyanyian tempo dulu : old-song
lammai ri kana-kana : lemah lembut graceful, : mild tempered
lantang-bangngi : larut malam, tengah malam : late at night, midnight
malla’-tonga’ : saya takut, saya tak tahu : I am afraid, I don’t know
muri-murinu andi’ : senyummu itu dinda : your smile honey
nakkukka’ ri kau : saya merinduimu : I miss you
nia’ napanna-panna : ada yang diidamkan : have a dream
oloang simata : jalan satu arah : one way
okalaki nibarasanai : sulit dimengerti : hard to understand
pakarena : pemain, penari : player, dancer
palukka’-lompo : pencuri besar : the king of a thief
ranggasela ri pa’mai : ragu-ragu di hati : not sure on mind
rassi tau : dipenuhi pengunjung : full-house
sanggenna la’busu’ : hingga berakhir, sampai habis : till the end
sukku’-baji’na : sangat sempurna : perfect, excellent
tappu’ panrannuang : putus asa : hopeless
tena na takkaluppa : tidak melupakan : unforget, still remember
ukiri’ bate lima : tulisan tangan : hand writing, manuscript
uru mangngai : cinta pertama : first love
warakkangi : di utara : on the north
wattu bara’ : musim hujan : rainy season
ya Ra’bi : ya Tuhan, ya Rabbi : oh my God
ye’ Karaeng : ya Tuan : yes Sir
ye’ : ya : yes
Ka Ga Nga Pa Ba Ma Ta Da Na
Ca Ja Nya Ya Ra La Wa Sa A Ha
Dukung kami dalam pembuatan Kamus Bugis-Makassar-Indonesia-Inggris join here
Senin, 10 Mei 2010
informasi buku-buku mengenai kota makassar
2. Kisah bijak orang Sulawesi Selatan edisi 1 dan 2
3. Masa depanwarisan luhur kebudayaan Sulawesi Selatan
4. Kisah tertembaknya Kahar Muzakkar di hutan
5. Siri’ dan pesse’ harga diri orang Bugis, Makassar, Mandar, Toraja
6. Malino berdarah
7. Pesan-pesan moral pelaut bugis
8. Silariang dan kisah-kisah siri’
9. Toraja warisan dunia
10. Profil raja-raja dan pejuang Sulawesi Selatan edisi 1 dan 2
11. Profil raja-raja Gowa
12. Manusia Makassar
13. Sastra Makassar
14. Parakang
15. Kearifan manusia kajang
16. Kitab Lontara’ Syekh Yusuf
17. Nenek moyang orang bugis
18. Jelajah 5 puncak Sulawesi
19. Kapitalisme orang bugis
20. Karebosi dulu, kini dan esok
21. Maestro 27 karaeng Bugis-Makassar
22. Menemukan Makassar di lorong waktu
23. Kasipalli
24. Buku cerdas Sulawesi Selatan
25. Aksara Lontara’ Makassar 1 dan 2
makassar dan sekitarnya, masih banyak buku-buku yang sudah di terbitkan yang tidak saya tuliskan, dan apabila sahabat-sahabat pemerhati budaya kota makassar ingin mendapatkan informasi tentang buku itu silahkan berikan komentar, eits… untuk sementara hanya judul yang saya perlihatkan maklum gambar bukunya belum saya scan, Insya Allah dalam waktu dekat akan saya lengkapi dengan gambar dan sedikit rangkuman buku-buku tersebut. Mari kita kembangkan budaya kota makassar khususnya dan umumnya Sulawesi Selatan, mohon saran dan kritikannya yach, komentar teman-teman adalah langkah maju itu mengembangkan sayap-sayap kebudayaan kota makassar. “Makassar bisa tonji”kota makassar paradigma buruk vs paradigma baik
- Pantai Losari hehe, inilah salah satu daya tarik orang ke kota Makassar dimana kita dapat menikmati sunrise dan sunset dalam satu tempat dan sekarang sedang di renovasi menjadi lebih indah dan bersih.
- Benteng Somba opu yaitu tempat bermukimnya kerajaan-kerjaan Gowa, sekarang didalam situs ini menjadi miniatur Sulawesi Selatan dimana rumah adat Sul-Sel terpampang disini.
- Benteng Roterdam adalah benteng pertahanan Belanda pada jamannya juga disebut benteng Panyyua yang berarti benteng berbentuk menyerupai penyu bila tampak atas, didalamnya terdapat foto-foto pejuang-pejuang Makassar dalam waktu dekat akan di renovasi.
- Monumen Mandala adalah monument yang didirikan Soeharto kalau gak salah :’), yang ketika itu didirikan untuk mengenang Pasukan Mandala di dalam monument tersebut di bagian bawahnya kita dapat melihat miniatur manusia berperang, di tingkat lantai paling atas kita dapat melihat seluruh sudut kota Makassar, terakhir saya datang beberpaa bulan lalu setelah ketemu denagn petugas di sana tenyata Monumen tersebut sudah setahun tidak dapat di fungsikan dikarenakan genset lift-nya rusak, yang apabila diperbaiki memakan biaya yang tinggi, saying padahal di antara situs-situs sejarah lain ini yang paling saya sukai.
- Pantai Tanjung Bira, Pantai Akkarena, dan Tanjung Bunga adalah sebuah pesisir pantai yang sangat indah yang dapat memperlihatkan langsung sunset di depan mata.
- Di luar Makassar ada juga
- Pulau Samalona, Pulau Kodingareng, Pulau Khayangan, Pulau Barrang Lompo ini mirip dengan Pulau seribu di Jawa
- Malino adalah puncaknya orang Makassar seperti Bogor puncaknya orang Jakarta, sama seperti di Bogor tempatnya dingin, di puncak gunung dan ada kebun tehnya. (tapi terus terang aku pernah ke Puncak di Bogor tapi belum pernah ke Malino, padahal kota sendiri, hihihi jadi malu)
- Bantimurung terletak di Kota Maros satu jam dari pusat kota Makassar, tempat wisata ini di sebut juga surganya kupu-kupu dikarenakan banyaknya kupu-kupu berkeliaran bebas dan berbagai macam
Senin, 08 Maret 2010
Pahlawan Makassar
Jaman sekarang gak kenal Pahlawan sendiri, apa kata dunia!!!! Begitulah yang mungkin di lontarkan sesepuh-sesepuh kita yang berjuang habis-habisan melawan penjajah yang masih hidup sampai sekarang =(, sedih yach. Bahkan pernah saya nonton sebuah acara TV yang dimana salah satu mantan pejuang hidup menjadi tukang becak. Apakah ini wujud kita membanggakan Pahlawan trus apa arti sebenarnya “Hari Pahlawan”, sedih rasanya.
Dari setitik peristiwa itulah aku mencari-cari sumber baik dari internet, surat kabar, dan buku-buku tentang Pahlawan khususnya dikotaku sendiri di Seputar Makassar agar aku bisa mengenal sekaligus memberikan info ke sahabat-sahabat blogger khususnya seputaran Makassar untuk sekedar mengenal Pahlawan kita sendiri, dan Alhamdulillah aku dapat buku dari salah satu Penerbit yakni Pustaka Refleksi dengan judul Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan Penulis Hannabi Rizal, Zainuddin Tika, M. Ridwan Syam.
Andi Pangerang Petta Rani : Pemimpin manunggal dengan rakyat.
Beliau lahir dari pasangan Andi Mappanyukki dan I Batasi Daeng Taco, 14 Mei 1904, AP. Petta Rani dikenal sebagai pemimpin yang ‘manunggal’ dengan rakyat, sehingga mendapat julukan “The godfather”. Sedikit kisah beliau, Suatu ketika beliau menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan tahun 1956-1960, (wah aku baru tau nih AP. Petta Rani itu pernah jadi Gubernur setahuku hanya nama jalannya hehehe….), beliau bersama anaknya berencana ke tukang cukur, sang anak pun langsung mengambil sedan mobil dinas ayahnya, tapi tiba-tiba beliau AP. Petta Rani memanggil tukang becak, daeng-daeng becak sahut beliau, anaknya pun lantas bertanya kok becak ayah kan anak mobil, dengan senyum ayahnya berkata “ kita harus merasakan hidup sebagai orang biasa, jangan sekali-kali sombong walau menjadi seorang Gubernur bahkan Raja sekalipun, karena tidak selamanya menjadi Gubernur atau Raja dan tidak selamanya juga menjadi anak cucu Gubernur atau Raja, dan apabila suatu saat kita lepas dari jabatan tersebut kita tidak canggung untk menjadi rakyat biasa.
Tahun 1903, beliau masuk Sekolah Bumi Putera dan Tamat tahun 1919. Setelah itu ia menlanjutkan pendidikan di Opleiding School Voor Inlandche Ambtenaren (OSIVA). Setamat di OSIVA, beliau langsung diangkat menjadi pegawai Pamongpraja (ambtenaren bij Inlandche Bestuurdier (AIB) di Palopo, Bone dan Takalar. Setelah itu beliau, diserahi tugas sebagai Kepala Distrik Bontonompo, di Gowa.
Beliau pun dipercaya sebagai ‘sekretaris pribadi’ Raja Boen dan di berikan gelar ‘Arung Macege’, setelah Indonesia merdeka 1956-1960 dipercayakan memimpin daerah Sulawesi Selatan menggantikan Lanto Daeng Pasewang, Jabatan selanjutnya, Anggota DPA dan terakhir menjadi anggota MPR.
Postingan selanjutnya “Andi Mattalatta” : Jejak Perjuangan
Kamis, 25 Februari 2010
Seni Pantun Makassar

Sambahyang alle lipa
Amala’nu pare baju
Iyami antu
Nibokong takle rianja
Shalat jadikan sarung (alas)
Amalan jadikan pakaian
Karena hanyalah itu
Menjadi bekal dihari Akherat
Majai tau kucini
Tarekakna najarreki
Nana lappasang
Sambahyang lima wattuwa
Kebanyakan umat kalau diperhatikan
Sangat mendalami ilmu tarekat
Akan tetapi melalaikan
Shalat lima waktunya
Karaeng Mappajariya
Nisombaya tojeng-tojeng
Tena rapanna
Tena sampajjuluna
Allah Yang Maha Pencipta
Disembah dengan sepenuh hati
Tak ada Dua-Nya
Tak ada yang dapat menandingi-Nya
Selengkapnya tertulis di Kisah-kisah orang Sulsel : A. Shadiq Kawu, Pustaka Refleksi Makassar
CATATAN PELAYARAN ANTARA MAKASSAR, BUTON, TORAJA dan TIMOR

Orang Makassar sejak dulu terkenal akrab dengan laut. Sebab, laut bukan hanya tempat melepas penat dan sepi, dengan melihat ombak bergulung memecah pantai dan berlari-lari berderet-deret diiringi angin yang mendesir setiap saat dipinggir pantai yakni pantai Losari Makassar atau Tanjung Akkarena Makassar bukan juga tempat untuk mencari nafkah misalnya mencari sea food : kepiting, udang, ikan atau tude (atau tiram/kerang), teringat masa kecil dulu menjadi pa-tude atau pa-sulo :,)
Secara Filosofis, orang Makassar menganggap Laut adalah sesuatu yang amat berarti, karena laut menggambarkan kebesaran Allah yang Menciptakan laut beserta isinya yang tidak pernah habis meskipun tiap hari berjuta-juta ton hasil laut diambil dimuka bumi ini, Subhanallah.
Berangkat dari itu semua laut di seputar Makassar banyak meninggalkan kisah dan petualangan-petualangan yang mengasikkan, Nenek Moyangku seorang pelaut……….. lagu itu mengingatkan masa-masa kecilku hehehe, berikut sepenggal catatan yang membuktikan nenek moyang orang Makassar seorang pelaut (tu.., tu….. Popeye the Sailor Moon)
I Lukmuk ri Mandalle dicatat pernah melakukan perjalanan laut (pelayaran) semacam safari laut disertai Sembilan kapal menuju Bima. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Oktober 1618, ada juga pelaut bernama Karaeng Matoaya bersama dengan raja berlayar ke pulau Buton dan menaklukkan negeri itu untuk pertama kalinya, selanjutnya Sultan Alauddin tiba dipulau Buton, menuju ke Bima dan menaklukkan Bima, Dompa, Sumbawa, Tembora dan Sultan Alauddin pun ikut menyebarkan Agama Islam di pulau-pulau tersebut.
Tempo dulu dari Makassar menuju ke Toraja tidak dapat ditempuh melalui perjalanan darat, tetapi harus melalui laut, perjalanan perdana Makassar ke Toraja dimulai tanggal 22 Oktober 1626 pada tanggal 13 Nopember 1626 Raja Gowa kembali ke Gowa setelah menaklukkan bolong. Pernah tercatat bahwa orang Bima melakukan pertempuran/pemberontakan selama 12 hari setelah dari Toraja tanggal 25 Nopember 1626, dan sebuah armada militer dilirim ke Bima dibawah pimpinan karaenga ri Burakne. Tercatat juga bahwa orang gowa pernah berlayar ke Timor tanggal 15 Januari 1641 ketika raja Tallo berangkat dari Kalanakkukang (Bulukumba) menuju Timor.
Ambon dikunjungi pertama kali oleh orang Gowa pada 1 Februari 1642 ketika Rombongan I Daeng Battu Karaeng Butta tiba di Ambon, tanggal 5 Oktober 1643 Raja pergi ke Agang Menjok (wilayah Ternate) berperang dengan Bone. Tanggal 20 Oktober 1644 Karaeng Paranggi meninggalkan Galesong bersama perahunya. Menurut catatan Lontara diatas Perahu Karaeng Patanggi “I Tuang” (Syekh Yusuf) yang berlayar ke Banten.
Demikianlah beberapa Catatan petualangan dan pelayaran Orang Makassar kepulau-pulau bagian sebelah timur nusantara pada abad 12, dan Alhasil dari pelayaran nenek moyang kita tersebut antara Suku Makassar, Buton, Toraja dan Timur hidup berdampingan dan saling melengkapi terbukti dilingkungan pribadi saya.
Bhinneka Tunggal Ika Berbeda-beda tetapi satu
Sumber Kisah-kisah orang Sulsel : A. Shadiq Kawu, Pustaka Refleksi Makassar
Sabtu, 20 Februari 2010
Sastra Makassar

Dikalangan orang Makassar, sejak dahulu mengenal tentang bahasa berirama atau satra, bukan hanya suku lain saja seperti padang. Orang Makassar menggunakan sastra tersebut sebagai bahasa sehari-hari, misalnya ketika ada seorang pemuda yang ingin meminang seorang pemudi, biasanya keluarga pemuda tersebut mencari orang yang mampu bersilat lidah atau ahli pantun/sastra dan melantunkan bahasa kiasan atau tutur kata agar pinangannya diterima contoh beberapa sastra/pantun dalam bahasa Makassar dinamakan kelong yang dilantunkan seperti :
Niaka Anne Mammempo
Angerang kasi’ asikku’
Saba’ nia’na
Hajjakku lakkupabattu
Saya datang menghadap
Membawa pengharapanku/rendah hatiku
Dikarenakan Adanya
Maksud ingin kusampaikan
Kamase-mase kuerang
Toddongko rimangko kebo
Naki’ minasa
Nipaempoi kalabbirang
Rendah hati kubawa
Kutaruh di mangkuk putih
Kami berharap
Didudukkan pada adat
Orang Makassar dahulu khususnya orang tua juga mendendangkan kelong atau pantun yang penuh pesan, pendidikan, petuah-petuah, tapi sekarang bahkan tenggelam dan pupus dipinggirkan oleh pantun dari daerah Barat yang bahkan artinya jauh dari arti sebenarnya, sehingga pantun khas sendiri dilupakan oleh generasi Muda.
Macam – macam sastera yaitu :
1. Sinrili dari Makassar
2. Kelong/Pantun dari Makassar
3. Rupama dari Makassar
4. Aru dari Makassar
5. Paddoangang
6. Paruntuk Kana dari Makassar
7. Pasang dari Makassar
Dikutip dari Sastra Makassar oleh HM. Siradjuddin Bantang penerbit Pustaka Refleksi
Kamis, 18 Februari 2010
Orang Makassar di Perancis : September 1687
Sepenggal kisahnya, Cristian Pelras, peneliti dari Cenre Nasional De La Recherché Scient Fiqe tertarik untuk mengadakan study tentang orang-orang Makassar, Kisah ini ketika terjadinya pemberontakan orang Makassar di Ayuthia Muangthai pada Bulan Agustus dan September 16 85.
Tatkala 120 orang Makassar dibawah Pimpinan “Pangeran Makassar” (Istilah pelras untuk Daeng Mangalle) melakukan perlawanan berani mati kepada pasukan gabungan, Perancis, Inggris, dan Muangthai, ke 120 orang tersebut gugur dalam pertempuran kecuali dua orang anak yang masih kecil.
Nama anak itu Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, oleh Duta Besar Perancis di Muangthai mereka diberangkatkan dari Ayuthia ke Perancis tanggal 5 Nopember 1686. Setelah mengarungi lautan selama sepuluh bulan mereka tiba diPerancis pada tanggal 22 Agustus 1687 dan kapal mereka mendarat di Pelabuhan Brest (Perancis Barat). Mereka disekolahkan di Paris, yaitu College de Clermont, Menurut Angkatan Laut mereka berdua, satunya menjadi calon Perwira di Kota Brest tanggal 1 Mei 1690, tanggal 1 Januari 1691 jadi Letnan dua, 1 Januari 1692 jadi Kapten Laut dan Meninggal di Havana 19 Mei 1708. Dan satunya lagi calon Perwira di Kota Brest tanggal 18 Mei 1699, Letnan dua di Kota Brest tanggal 25 Nopember 1712 dan Meninggal.
Hai kawan-kawan dari kisah ini mari kita menyimpulkan bahwa kita harus bangga menjadi orang Makassar buktinya nenek kita memang seorang pelaut yang Handal mereka dapat menempuh perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan yang selalu memasukkan kata siri’ na pacce’ kedalam jiwa dan dadanya.
Terbitan lengkapnya ada di Penerbit Pustaka Refleksi dengan judul Kisah-Kisah Bijak Orang Sulsel
BUDAYA MAKASSAR DIAMBANG KEPUNAHAN BETULKAH ?
Masih ingatkah kita sewaktu kecil bermain kelereng bahasa Makassar (baguli), bermain layangan (a’layang-layang), main petak umpet (enggo-enggo), melempar batu (santo’-santo’), semua permainan itu ditenggelamkan oleh yang namanya Playstation, game online. Padahal pada saat kita melihat dari sisi kesehatan permainan diatas lebih mengutamakan gerakan tangan, kaki, dan pikiran sehingga dengan tidak sengaja anak-anak berolahraga akan tetapi permainan Playstation dan online hanya duduk dan melihat saja meskipun permainan tersebut tidak semuanya kurang baik.
Benarkah pendapat yang mengatakan bahwa semua yang modern itu membawa pengaruh yang baik untuk kemajuan, dan semua yang klasik itu menyebabkan kemunduran, hal ini kurang kebenarannya, dapat dilihat pada masyarakat Jepang yang kemajuannya sangat oesat namun sangat memelihara kebudayaan klasiknya misalnya masih digemari teater kabuki, Noh dan budaya minum the, mereka menjadga kebudayaannya yang merupakan identitas suatu bangsa dan nasional.
Dari dasar pemikiran yang sederhana inilah saya bermaksud untuk lebih mendalami dan menggali nilai-nilai dan hikmah budaya warisan para leluhur baik tentang Budaya, Pahlawan, sejarah, situs prasejarah Makassar baik dari buku, web, dan informasi lain.
Adapun referensi saya yang awal yakni :
Sastra Makassar ditulis oleh HM Siradjuddin Bantang diterbitkan Pustaka Refleksi
Kisah-kisah bijak orang Sulawesi Selatan oleh A. Shadiq Kawu diterbitkan Pustaka Refleksi
Maka Lahirlah www.ommail-makassar.blogspot.com

